SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika https://e-journal.sttaletheia.ac.id/index.php/solagratia <p><strong>SOLA GRATIA: </strong>Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah:</p><ol><li>Teologi Biblikal </li><li>Teologi Pastoral</li><li>Teologi Kontemporer</li></ol><p><strong>SOLA GRATIA </strong>menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh <em>reviewer</em> yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.</p><p><strong>SOLA GRATIA </strong>terbit dua kali dalam satu tahun, Januari dan Juli, serta telah diindeks pada:</p><ol><li><a href="https://scholar.google.co.id/citations?hl=en&amp;authuser=2&amp;user=J5AP2FgAAAAJ" target="_blank">Google Scholar</a></li><li>PKP Index</li><li>One Search</li></ol><div style="display: none;"><a href="https://ancolbeachcity.com/halaman/concert-hall.html" rel="noopener noreferrer">pistol4d</a> <a href="https://ancolbeachcity.com/halaman/concert-hall.html" rel="noopener noreferrer">slot maxwin</a></div> Sekolah Tinggi Teologi Aletheia en-US SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2723-2786 KESETIAAN DALAM AJARAN DAN INTEGRITAS HIDUP: EKSPOSISI 1 TIMOTIUS 4:12–16 BAGI PEMIMPIN GEREJA KONTEMPORER https://e-journal.sttaletheia.ac.id/index.php/solagratia/article/view/444 <p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em>This study examines the theological foundation of spiritual leadership integrity based on 1 Timothy 4:12-16. Previous research has identified six dimensions of integrity -Christological, spiritual-moral, formational, pedagogical, communal, and ethical-administrative- but treats them separately. Through qualitative analysis and exegetical reading of the text, this research develops an integrative model that reveals four axes of formation: exemplary life, spiritual discipline, communal affirmation, and the balance between teaching and living. These four axes converge within a holistic theological framework, affirming that the integrity of spiritual leadership is not merely moral or administrative, but emerges from the unity of orthodoxy and orthopraxy. The study asserts that authentic Christian leadership grows through personal discipline in the Word, communal affirmation, and perseverance in sound teaching. The findings provide a theological foundation for churches and theological institutions to situate leadership formation as an integrated process of faith, community, and doctrine.</em><em></em></p><p><strong><em> </em></strong></p><p><strong><em>Keywords: </em></strong><em>church leadership; integrity; theological formation; 1 Timothy 4:12-16, </em><em>orthodoxy; orthopraxy.</em></p><p> </p> Djonni Tan Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-07-28 2026-07-28 7 1 684 707 10.47596/sg.v7i1.444 PARADIGMA PANCA SOLA REFORMASI DALAM STRATEGI PENCEGAHAN KEKERASAN DI LINGKUNGAN SEKOLAH https://e-journal.sttaletheia.ac.id/index.php/solagratia/article/view/441 <p><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Ketika iman dan hati nurani terdiam, bahkan teologi pun dapat menjadi pembenaran atas kekerasan. Paradigma “Fortis in Fide, Mitis in Vita”—teguh dalam iman, lemah lembut dalam hidup—menghidupkan kembali semangat humanis Reformasi dalam pendidikan Kristen. Berakar pada lima Sola teologi Reformasi, refleksi ini mengusulkan visi pedagogis yang menyelaraskan kebenaran dengan kelembutan dan keyakinan dengan belas kasih. Sola Scriptura membangun kejelasan moral melalui otoritas Firman; Sola Fide memupuk keberanian untuk mengejar keadilan; Sola Gratia mengajarkan bahwa pengampunan adalah manifestasi kekuatan; Solus Christus memusatkan Kristus sebagai teladan utama empati dan pembela kaum tertindas; sementara Soli Deo Gloria mengarahkan seluruh upaya pendidikan kepada kemuliaan Tuhan. Secara kolektif, prinsip-prinsip ini membentuk visi teologis yang memulihkan martabat manusia dan menolak segala bentuk kekerasan. Dalam kerangka ini, anti-perundungan bukan sekadar tindakan disipliner, melainkan ungkapan kemanusiaan yang telah ditebus. Teguh dalam iman dan lemah lembut dalam hidup berarti mewujudkan Injil itu sendiri—kebenaran tanpa tirani dan kasih tanpa kelemahan.</span></span></em></p> Timotius Adrian Tri Ratno Wahono Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-07-28 2026-07-28 7 1 708 727 10.47596/sg.v7i1.441 ETIKA KRISTEN DAN FINTECH: PENATALAYANAN BERKEADILAN DALAM EKONOMI DIGITAL INDONESIA https://e-journal.sttaletheia.ac.id/index.php/solagratia/article/view/475 <p>Perkembangan <em>financial technology (fintech)</em> telah membentuk lanskap baru dalam ekonomi digital Indonesia, namun sekaligus menghadirkan berbagai persoalan etis, terutama terkait keadilan sosial, perlindungan kelompok rentan, dan tanggung jawab moral pelaku ekonomi digital. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji praktik fintech dalam perspektif etika Kristen dengan menempatkan konsep penatalayanan <em>(stewardship)</em> sebagai kerangka teologis utama. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dan analisis normatif-teologis, penelitian ini merefleksikan bagaimana prinsip kasih, keadilan, dan tanggung jawab sosial dalam iman Kristen dapat direkonstruksi menjadi konsep penatalayanan berkeadilan dalam konteks ekonomi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa fintech, apabila tidak diarahkan secara etis, berpotensi memperdalam ketimpangan dan eksklusi sosial; sebaliknya, melalui kerangka penatalayanan berkeadilan, fintech dapat berfungsi sebagai sarana yang memajukan kesejahteraan bersama dan keadilan struktural. Artikel ini berkontribusi pada pengembangan etika Kristen kontekstual dalam merespons dinamika ekonomi digital di Indonesia.</p> Iman Kristina Halawa Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-07-28 2026-07-28 7 1 728 746 10.47596/sg.v7i1.475 EKSEGESIS GRAMATIKAL-HISTORIS YUNUS 2:2: REINTEPRETASI FUNGSI IKAN BESAR SEBAGAI INSTRUMEN KESELAMATAN https://e-journal.sttaletheia.ac.id/index.php/solagratia/article/view/478 <p>Penelitian ini menyajikan analisis mendalam terhadap narasi nabi Yunus melalui pendekatan eksegesis gramatikal-historis, khususnya pada teks Yunus 2:2. Analisis ini menantang paradigma konvensional yang memandang ikan besar sebagai instrumen penghukuman atas pelarian Yunus dari panggilan ilahi. Dengan membedah struktur linguistik asli bahasa Ibrani, ditemukan bahwa penggunaan kata kerja bentuk <em>perfect</em> (<em>qatal</em>) mengindikasikan bahwa doa Yunus di dalam perut ikan bukanlah permohonan pengampunan, melainkan madah syukur atas keselamatan yang telah dialami sebelumnya di kedalaman laut. Pergeseran kronologis ini menunjukkan bahwa ikan besar berfungsi sebagai “sekoci penyelamat” (<em>lifeboat fish</em>) yang dikirim Allah untuk mencegah kematian Yunus akibat tenggelam. Implikasi teologisnya mengungkapkan bahwa ketaatan Yunus di Niniwe pada pasal ketiga merupakan pemenuhan “nazar” atas keselamatan fisik, bukan manifestasi pertobatan hati yang tulus. Hal ini menjelaskan ketidakkonsistenan sikap Yunus pada pasal keempat, di mana ia menolak anugerah bagi bangsa lain, sekaligus mempertegas kedaulatan kasih Allah yang melampaui eksklusivisme religius manusia.</p> Carel Hot Asi Siburian Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-07-28 2026-07-28 7 1 747 764 10.47596/sg.v7i1.478 MENDIDIK DAN MENGASUH: PENERAPAN KONSEP GEREJA SEBAGAI IBU DALAM PEMIKIRAN YOHANES CALVIN DAN TANTANGANNYA DI GMIT GIBEON-BONE https://e-journal.sttaletheia.ac.id/index.php/solagratia/article/view/484 <p align="justify">Artikel ini mengkaji penerapan konsep "gereja sebagai ibu" dalam pemikiran Yohanes Calvin dan tantangannya dalam konteks gereja GMIT Gibeon Bone, yang berhadapan dengan pluralitas denominasi gereja. Calvin memandang gereja sebagai ibu yang mengasuh dan mendidik umat Kristen dalam kehidupan iman mereka. Konsep ini sangat relevan dalam upaya membangun identitas gereja lokal di tengah perbedaan denominasi gereja. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan wawancara dengan pemimpin dan anggota jemaat GMIT Gibeon Bone, artikel ini mengidentifikasi bagaimana konsep tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari jemaat dan tantangan yang dihadapi dalam menjaga hubungan dengan gereja-gereja lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan dalam pluralitas, jemaat GMIT Gibeon Bone tetap berusaha memaknai gereja sebagai ibu yang mengasuh umat dalam kasih dan pengajaran Kristus. </p> Eritrika A. Nulik Doddy Octavianus Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-07-28 2026-07-28 7 1 765 788 10.47596/sg.v7i1.484 ANALISIS TEOLOGIS-KRITIS DALAM PRAKTIK IBADAH GEREJA KONTEMPORER BERDASARKAN PRINSIP SOLA SCRIPTURA https://e-journal.sttaletheia.ac.id/index.php/solagratia/article/view/442 <p>Seiring dengan progresif zaman, liturgi ibadah di gereja-gereja kontemporer cenderung bergeser ke arah profanisasi, sehingga fokus liturgi ibadah tidak lagi berpusat pada Theosentris melainkan antroprosentris itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menginisiasi dan menemukan kembali makna teologis liturgi ibadah berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab di tengah kemajuan teknologi yang cukup pesat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan menganalisis dan memahami peristiwa-peristiwa terkini dari berbagai sumber dan situasi secara kritis. Hasilnya, gereja dalam menerapkan liturgi ibadah seharusnya mendorong setiap jemaat dengan menempatkan seluruh aspek liturgi ibadah berfokus pada Allah dan untuk kemuliaan-Nya dengan memprioritaskan perubahan hidup, kekudusan, ketaatan, dan melakukan penyembahan dalam roh dan kebenaran. Maka dari itu, kriteria utama liturgi ibadah yang sejati bukanlah bentuk atau gaya, tetapi penyembahan dan kesetiaan kepada Allah dan ketaatan terhadap otoritas Alkitab. Hal ini mendorong gereja untuk kembali menempatkan Firman Allah di pusat semua praktik liturgi ibadah. Sehingga, semua pola dan struktur pembaruan liturgi ibadah harus diuji berdasarkan kebenaran teologis tanpa terombang-ambing oleh kemajuan zaman, bukan sekadar efektivitas sensasi atau daya tarik budaya. Hanya dengan kembali kepada otoritas Alkitab, gereja dapat memulihkan kemurnian liturgi ibadahnya yang berkenan kepada Allah.</p> Fa'ahakhododo Halawa Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-07-28 2026-07-28 7 1 789 815 10.47596/sg.v7i1.442 PENGAMPUNAN SEBAGAI SARANA PEMULIHAN KOMUNITAS: KAJIAN HERMENEUTIS TERHADAP 2 KORINTUS 2:5-11 https://e-journal.sttaletheia.ac.id/index.php/solagratia/article/view/481 <p>Artikel ini mengkaji urgensi pengampunan sebagai sarana pemulihan komunitas berdasarkan 2 Korintus 2:5-11. Berangkat dari realitas konflik yang sedang dihadapi jemaat tersebut, sebagaimana Paulus dalam suratnya ia menawarkan pengampunan terhadap pelaku kesalahan sebagai jalan menuju sukacita. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutis-eksegetis guna untuk memahami makna teks sesuai maksud penulis kitab. Analisis terhadap istilah kunci seperti χαρίζομαι (charizomai) menunjukkan bahwa pengampunan dipahami sebagai tindakan anugerah yang memulihkan. Hasil penelitian menegaskan bahwa hukuman yang telah diberikan sudah cukup untuk membawa pelaku pada pertobatan. Karena itu, jemaat dipanggil untuk mengampuni dan menghibur agar ia tidak tenggelam dalam kesedihan. Pengampunan menjadi wujud kasih yang menjaga kesatuan jemaat dan mencegah perpecahan.</p> Nikita Sitanggang Salomo Sihombing Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-07-28 2026-07-28 7 1 816 830 10.47596/sg.v7i1.481